Merdeka !! Mblo..!!!
Kali ini saya mau membahas pandangan seorang yang memegang
erat kepercaraan “pacaranisme”
tentang tanggapan sebuah penyakit serius yang bernama Jombloisme. Ini berdasarkan survey dari seratus orang
teman yang saya kumpulkan dari seluruh penjuru Penjuru Sulawesi Tenggara, bersama
dengan pengalaman saya yang menganut paham Jombloisme.
Gini banggona, perkembangan kata Jomblo sudah mengalami Deviasi, dari kata status menjadi Objek yang merujuk
pada seseorang dan merupakan kalimat hinaan. lihat ada Jomblo, dia jomblo,
Kadang status jomblo dalam kehidupan bermasyarakat
menjadi menjadi sebuah momok yang
menakutkan dan kambing hitam dari
sejaran jomblo, yang saya maksud disini adalah kebanyakan dari mereka entah
alasan apa yang menjadikan status jomblo menjadi sangat rendah. Jangan temanan sama dia, dia itu jomblo,
atau hinaan lain tentang status sebagai seorang jomblo.
Meskipun tidak ada sebuah penelitian khusus yang menjelaskan
apakah jomblo itu sebuah penyakit, tidak ada juga penjelasan bahwa status
jomblo itu dapat menular, ini adalah sebuah dogma
yang di ciptakan oleh kaum jomblo heaters yang menyimpulkan seenak undonya,
agar dapat merubah kepercayaan seorang jomblo menjadi penganut kepercayaan “pacaran”. Sebut saja pacaranisme
Oke oke. alasan lain : tidak jarang seorang jomblo rela kasian,
untuk mengorbankan segalanya hanya untuk berjuang mendapakan status pacaran,
meski hal seperti jalan yang penuh dengan duri, serasa lari marathon pake senda
refleksi, ada juga yang rela menjadi seorang budak cinta dengan menjadi
selingkuhan. Eh ada selingkuhan yang
baca.
Perjuangan keras seorang jomblo bahkan kadang mengalami
nasib naas dan terjebak dalam zona naas, yang mengakibatkan turunya
kualitas sebagai seorang jomblo.
Hal ini menunjukkan jika kualitas hati seorang jomblo
bagaikan baja, tidak hanya itu !. tidak jarang dalam hubungan masyarakat
seorang jomblo mendapatkan Kekerasan verbal. dasar jomblo!!,jomblo neges dan tidak jarang di temukan kekerasan yang lebih extream dengan
menyimpulkan bahwa mereka adalah kaum yang sangat berdosa dan melanggar aturan
budaya dan agama. Di sebut maho contohnya.
Tidak jarang mereka hanya digunakan sebagai alat untuk
menjamin kesenangan mereka sendiri, istilah kerenya sih Jomblo Abused, coba bayangkan seberapa seringnya mereka disalah
gunakan. Seperti menggunakan mereka sebagai obat nyamuk ketika mereka lagi
mesra-mesraan, dan petapa seringnya mereka menjadikan seorang jomblo teman
cerita hanya untuk menumpahkan semua sampah curhatan yang gak guna, sampai begadang
pula.
Atau menjadikan seorang jomblo sebagai tameng dalam rusaknya
hubungan mereka. “Say, saya tuh kenal
sama si jomblo udah lama sebelum pacaran dengan kamu”. dan menjadi alasan ketika mereka lagi jalan
dengan orang lain. Gw lagi jalan sama si
jomblo neh, padahal mereka lagi jalan dengan selingkuhanya, dan tanpa rasa
dendam sedikit pun seorang jomblo akan berusaha meyakinkan pacar mereka
tersebut dengan berbohong. Iya dia lagi
jalan kok sama saya. Luhur benar budi mu mblo. Hiks Hiks
Jomblo (disimbiguasi)
adalah sebuah objek yang sangat menghibur bagi mereka, sebagai bahan hinaan,
sebagai bahan pelarian curhatan dan bahan untuk menutupi semua kebusukan
mereka. Dari pembahasan ini dapat di simpulkan kemurnian hati seorang jomblo
yang rela untuk melakukan hal tersebut, mungkin ini yang disebut Pahlawan Tanpa
Pamrih dalam memperjuangkan kebahagian teman. Kenapa para cewek-cewek tidak pernah sadar ya ?
Apakah para jomblo
bangga dengan status mereka ?
Jauh di dalam hati mereka (jomblo), mereka juga sangat rindu untuk hidup di masa Orde Pacaran yang konon katanya merupakan
sebuah pencapaian kebahagiaan terbesar bagi seluruh masyarakat jomblo, dan
untuk beberapa alasan, jalan yang mereka lalui itu sungguh terjal, kadang ada lumpur hisapnya juga. Tidak
ada alasan yang dapat menjelaskan kenapa jalan yang harus mereka lalui harus
keras seperti ini. Apakah ini yang namanya takdir ?
Jomblo itu pilihan,
yah dalam hati seorang jomblo entah itu tameng atau memang serius dalam hati,
mereka tentu saja mempunyai alasan tersendiri hingga mereka sampai sekarang ini
tetap setia pada kepercayaan mereka, bukankah hukum juga menjamin hak-hak
seorang jomblo ?. Namun dalam prakteknya, hak seorang jomblo untuk melakukan
pembelaan diri sungguh masalah besar untuk diterima dengan akal sahat. Pernahkah kalian membenarkan pembelaan diri
seorang jomblo dalam mempertahakan status jomblo ?. Hanya jomblo yang membenarkan alasan jomblo.
Sudah jadi hal lumrah dalam mempertahankan kepercayaan
masing-masing ada pro-kontranya, hal ini didasari dari kata “tidak benar”, dan masing-masing meyakini
kalau kepercayaanya itu adalah hal yang paling benar. Namun setididaknya Stop
Jomblo Abused!
Sekian dulu surat terbuka jomblo ini yang mewakili 100 orang
jomblo fiktif yang saya wawancarai,
semoga dengan surat ini kalian dapat mengerti perasaan seorang jomblo.

Komen jangan mengadung kata-kata kotor atau yang berbau Sara Nah Bos Ku
EmoticonEmoticon