Friday, July 15, 2016

Surat Terbuka Kepada Jomblo Heaters


Merdeka !! Mblo..!!!

Kali ini saya mau membahas pandangan seorang yang memegang erat kepercaraan “pacaranisme” tentang tanggapan sebuah penyakit serius yang bernama Jombloisme.  Ini berdasarkan survey dari seratus orang teman yang saya kumpulkan dari seluruh penjuru Penjuru Sulawesi Tenggara, bersama dengan pengalaman saya yang menganut paham Jombloisme.

Gini banggona, perkembangan kata Jomblo sudah mengalami Deviasi,  dari kata status menjadi Objek yang merujuk pada seseorang dan merupakan kalimat hinaan. lihat ada Jomblo, dia jomblo, 

Kadang status jomblo dalam kehidupan bermasyarakat menjadi menjadi  sebuah momok yang menakutkan dan  kambing hitam dari sejaran jomblo, yang saya maksud disini adalah kebanyakan dari mereka entah alasan apa yang menjadikan status jomblo menjadi sangat rendah. Jangan temanan sama dia, dia itu jomblo, atau hinaan lain tentang status sebagai seorang jomblo.

Meskipun tidak ada sebuah penelitian khusus yang menjelaskan apakah jomblo itu sebuah penyakit, tidak ada juga penjelasan bahwa status jomblo itu dapat menular, ini adalah sebuah dogma yang di ciptakan oleh kaum jomblo heaters yang menyimpulkan seenak undonya, agar dapat merubah kepercayaan seorang jomblo menjadi penganut kepercayaan “pacaran”. Sebut saja pacaranisme

Oke oke. alasan lain : tidak jarang seorang jomblo rela kasian, untuk mengorbankan segalanya hanya untuk berjuang mendapakan status pacaran, meski hal seperti jalan yang penuh dengan duri, serasa lari marathon pake senda refleksi, ada juga yang rela menjadi seorang budak cinta dengan menjadi selingkuhan. Eh ada selingkuhan yang baca.

Perjuangan keras seorang jomblo bahkan kadang mengalami nasib naas dan terjebak dalam zona naas, yang mengakibatkan turunya kualitas sebagai seorang jomblo.

Hal ini menunjukkan jika kualitas hati seorang jomblo bagaikan baja, tidak hanya itu !. tidak jarang dalam hubungan masyarakat seorang jomblo mendapatkan Kekerasan verbal. dasar jomblo!!,jomblo neges dan tidak jarang di temukan  kekerasan yang lebih extream dengan menyimpulkan bahwa mereka adalah kaum yang sangat berdosa dan melanggar aturan budaya dan agama. Di sebut maho contohnya.

Tidak jarang mereka hanya digunakan sebagai alat untuk menjamin kesenangan mereka sendiri, istilah kerenya sih Jomblo Abused, coba bayangkan seberapa seringnya mereka disalah gunakan. Seperti menggunakan mereka sebagai obat nyamuk ketika mereka lagi mesra-mesraan, dan petapa seringnya mereka menjadikan seorang jomblo teman cerita hanya untuk menumpahkan semua sampah curhatan yang gak guna, sampai begadang pula.

Atau menjadikan seorang jomblo sebagai tameng dalam rusaknya hubungan mereka. “Say, saya tuh kenal sama si jomblo udah lama sebelum pacaran dengan kamu”.  dan menjadi alasan ketika mereka lagi jalan dengan orang lain. Gw lagi jalan sama si jomblo neh, padahal mereka lagi jalan dengan selingkuhanya, dan tanpa rasa dendam sedikit pun seorang jomblo akan berusaha meyakinkan pacar mereka tersebut dengan berbohong. Iya dia lagi jalan kok sama saya. Luhur benar budi mu mblo. Hiks Hiks

Jomblo (disimbiguasi) adalah sebuah objek yang sangat menghibur bagi mereka, sebagai bahan hinaan, sebagai bahan pelarian curhatan dan bahan untuk menutupi semua kebusukan mereka. Dari pembahasan ini dapat di simpulkan kemurnian hati seorang jomblo yang rela untuk melakukan hal tersebut, mungkin ini yang disebut Pahlawan Tanpa Pamrih dalam memperjuangkan kebahagian teman. Kenapa para cewek-cewek tidak pernah sadar ya ?

Apakah para jomblo bangga dengan status mereka ?

Jauh di dalam hati mereka (jomblo), mereka juga sangat rindu untuk hidup di masa Orde Pacaran yang konon katanya merupakan sebuah pencapaian kebahagiaan terbesar bagi seluruh masyarakat jomblo, dan untuk beberapa alasan, jalan yang mereka lalui itu sungguh terjal, kadang ada lumpur hisapnya juga. Tidak ada alasan yang dapat menjelaskan kenapa jalan yang harus mereka lalui harus keras seperti ini.  Apakah ini yang namanya takdir ?

Jomblo itu pilihan, yah dalam hati seorang jomblo entah itu tameng atau memang serius dalam hati, 
mereka tentu saja mempunyai alasan tersendiri hingga mereka sampai sekarang ini tetap setia pada kepercayaan mereka, bukankah hukum juga menjamin hak-hak seorang jomblo ?. Namun dalam prakteknya, hak seorang jomblo untuk melakukan pembelaan diri sungguh masalah besar untuk diterima dengan akal sahat. Pernahkah kalian membenarkan pembelaan diri seorang jomblo dalam mempertahakan status jomblo ?. Hanya jomblo yang membenarkan alasan jomblo.

Sudah jadi hal lumrah dalam mempertahankan kepercayaan masing-masing ada pro-kontranya, hal ini didasari dari kata “tidak benar”, dan masing-masing meyakini kalau kepercayaanya itu adalah hal yang paling benar. Namun setididaknya Stop Jomblo Abused!

Sekian dulu surat terbuka jomblo ini yang mewakili 100 orang jomblo fiktif yang saya  wawancarai, semoga dengan surat ini kalian dapat mengerti perasaan seorang jomblo.

Komen jangan mengadung kata-kata kotor atau yang berbau Sara Nah Bos Ku
EmoticonEmoticon